Home » » Rangkuman Bab Jaringan Hewan Kelas XI Jurusan IPA

Rangkuman Bab Jaringan Hewan Kelas XI Jurusan IPA

Written By Naufaldi Rafif Satriya on Sunday, September 30, 2012 | 5:28 PM



Seperti pada tumbuhan, tubuh hewan juga multiseluler, terdiri atas
bermacam-macam sel yang berbeda bentuk dan fungsinya. Sel-sel yang memiliki
bentuk dan fungsi sama berkelompok membentuk jaringan. Pada hewan
termasuk manusia terdapat dua kelompok jaringan, yaitu jaringan benih (germinal)
dan jaringan tubuh (somatis). Jaringan benih (germinal), aktif membelah
diri untuk menghasilkan benih baru. Jaringan tubuh (somatis), terdapat pada
tubuh hewan atau manusia selama hidupnya. Jaringan somatis meliputi jaringan
epitel, jaringan ikat, jaringan otot, dan jaringan saraf. Gambar 2.12 berikut
memperlihatkan berbagai jaringan pada manusia


1. Jaringan Epitel
Jaringan epitel merupakan jaringan yang membatasi dua lingkungan
yang berbeda seperti dinding usus dengan rongga usus, dinding kantung
kemih dengan rongga kemih, yang tersusun oleh selapis sel atau beberapa
lapis sel. Jaringan epitel memiliki beberapa fungsi, antara lain sebagai
pelindung, kelenjar, dan reseptor.

Sebagai pelindung, jaringan epitel melindungi jaringan yang ada di
bawahnya dari kerusakan mekanis karena tekanan, gesekan, radiasi ultraviolet,
dan serangan mikroorganisme. Sebagai kelenjar, jaringan epitel terdapat
pada saluran pencernaan yang menghasilkan enzim-enzim pencernaan.
Epitelium yang melapisi saluran pernapasan mengeluarkan mukus atau lendir
untuk menangkap partikel-partikel debu yang masuk dan sebagai pelindung
dari kekeringan. Sebagai reseptor, epitelium yang terdapat pada alat indra
berfungsi untuk menerima rangsang.Pada beberapa bagian tubuh, macammacam
sel yang berbeda berbaur sehingga sulit diklasifikasikan. Berdasarkan
bentuk dan susunannya, jaringan epitel dibedakan menjadi jaringan epitel
sederhana, jaringan epitel berlapis, dan jaringan epitel kelenjar.

a. Jaringan Epitel Sederhana
Jaringan epitel sederhana terdiri atas selapis sel. Berdasarkan bentuk selsel
penyusunnya, jaringan ini diklasifikasikan sebagai berikut.

1) Epitel pipih selapis

Sel-sel epitel ini pipih dan tipis,
berisi sedikit sitoplasma yang membungkus
inti di bagian tengah. Terdapat
pada alveoli lapisan dalam
pembuluh darah, pembuluh limfe,
dan merupakan dinding pembuluh
kapiler

2) Epitel kubus selapis

Epitel ini terdapat pada saluran
kelenjar ludah, kelenjar keringat,
saluran ginjal, dan kelenjar gondok
(Gambar 2.14).

3) Epitel silindris selapis

Epitel ini terdiri atas selapis sel
berbentuk panjang dan sempit.
Jaringan ini melapisi seluruh saluran
pencernaan yang diselingi oleh sel
goblet yang menghasilkan mukus
(lendir) untuk melindungi lambung
dari asam lambung (Gambar 2.15).

4) Epitel berlapis semu

Jika kita perhatikan penampang
jaringan ini (Gambar 2.16), akan
tampak beberapa sel dengan
ketinggian berbeda karena tidak semua
sel mencapai permukaan yang bebas.
Meskipun demikian, epitel ini terdiri
atas selapis sel-sel tebal dan tiap-tiap
selnya melekat pada membran basal.
Jaringan epitelium ini dapat kita
jumpai pada saluran kencing dan
tenggorokan, uretra jantan, saluran
reproduksi jantan, serta epididimis
(saluran sperma).

5) Epitel selapis bersilia

Epitel bersilia terdiri atas sel-sel
yang berbentuk silindris dengan silia
pada tepi luarnya. Getaran silia
menimbulkan aliran. Jaringan ini
terdapat pada saluran telur, uterus,
dan saluran pernapasan atas,


b. Jaringan Epitel Berlapis

Jaringan epitel berlapis terdiri
atas beberapa lapis sel. Jika dibandingkan
dengan epitel sederhana,
jaringan ini memiliki bentuk dan
susunan lebih kuat. Jaringan epitel
berlapis meliputi epitel pipih berlapis
yang terdapat pada sebagian
esofagus; epitel kubus berlapis, yang
terdapat pada saluran kelenjar
keringat; dan epitel silindris berlapis
yang terdapat pada saluran kelenjar
susu, kelenjar ludah submandibula
(Gambar 2.18).


Jaringan 51
5) Epitel selapis bersilia
Epitel bersilia terdiri atas sel-sel
yang berbentuk silindris dengan silia
pada tepi luarnya. Getaran silia
menimbulkan aliran. Jaringan ini
terdapat pada saluran telur, uterus,
dan saluran pernapasan atas, Lihat
Gambar 2.17.

b. Jaringan Epitel Berlapis

Jaringan epitel berlapis terdiri
atas beberapa lapis sel. Jika dibandingkan
dengan epitel sederhana,
jaringan ini memiliki bentuk dan
susunan lebih kuat. Jaringan epitel
berlapis meliputi epitel pipih berlapis
yang terdapat pada sebagian
esofagus; epitel kubus berlapis, yang
terdapat pada saluran kelenjar
keringat; dan epitel silindris berlapis
yang terdapat pada saluran kelenjar
susu, kelenjar ludah submandibula
(Gambar 2.18).

c. Jaringan Epitel Kelenjar
Di antara sel-sel epitel dijumpai sel-sel goblet atau sekelompok sel goblet
yang membentuk kelenjar bersel banyak. Epitelium yang banyak
mengandung sel-sel goblet disebut membran mukosa. Ada dua tipe kelenjar,
yaitu eksokrin dan endokrin. Disebut eksokrin jika sekresi kelenjar dialirkan
ke permukaan melalui saluran, dan disebut endokrin jika sekresi kelenjar
langsung masuk ke aliran darah. Kelenjar endokrin tidak memiliki saluran,
misalnya kelenjar hormon.



3. Jaringan Ikat

Jaringan ikat merupakan penyokong utama tubuh hewan dan manusia.
Sel-selnya berada dalam sejumlah besar matriks (bahan ekstraseluler) yang
diekskresikan oleh sel-sel penyusunnya. Selain sebagai pembungkus dan
pengikat berbagai organ tubuh, jaringan ini memiliki banyak fungsi, seperti
melindungi tubuh dari serangan bakteri (jaringan ikat longgar), menghindari
kehilangan panas (adiposum), memberi bentuk pada tubuh (skeleton) dan
memproduksi darah (jaringan darah/hemopoietik). Jaringan ikat meliputi
jaringan ikat sebenarnya, jaringan skeleton, dan jaringan darah.

a. Jaringan Ikat sebenarnya



Jaringan ini terdapat di seluruh bagian tubuh, di bawah kulit meng–
hubungkan berbagai organ dan mengisi ruang antarjaringan yang berdekatan.
Berdasarkan susunannya, jaringan ikat dibedakan atas jaringan ikat longgar,
jaringan ikat padat, dan jaringan lemak (jaringan adiposum).

Jaringan ikat longgar terdiri atas matriks (substansi dasar) yang mengandung
macam-macam sel dan serabut, seperti tampak pada Gambar 2.19. Di dalam
matriks terdapat 4 macam sel, yaitu fibroblas yang menghasilkan serabut
kolagen, serabut elastis, dan matriks, sel cagak (mast cell) penghasil heparin
(antipembekuan), sel lemak yang menimbun lemak, dan makrofag (sel ameboid
yang memakan partikel asing), hal ini penting untuk melindungi tubuh

dari bibit penyakit. Selain itu, dalam matriks juga terdapat dua macam serabut,
yaitu serabut kolagen berupa berkas serabut yang fleksibel, tetapi tidak elastis
dan serabut elastis yang fleksibel dan elastis. Serabut ini membentuk semacam
jaring pada matriks. Fungsi jaringan ini menghubungkan berbagai jaringan,
misalnya kulit dengan struktur di bawahnya.


Jaringan ikat padat dibedakan antara jaringan ikat kolagen dan jaringan ikat
elastis. Tendon yang melekatkan otot pada tulang merupakan contoh jaringan
ikat kolagen, matriksnya mengandung berkas serabut kolagen yang padat,
contoh lain aponeurosis. Pada jaringan ikat elastis matriks hanya mengandung
serabut elastis, jaringan ini terdapat pada ligamen yang mengikat tulang-tulang
dalam persendian, paru-paru, dinding trakea, pita suara.

Jaringan lemak (adiposum) dalam matriks hanya sel-sel lemak, penting
untuk menyimpan lemak cadangan. Pada kulit, adiposum berfungsi untuk
mencegah kehilangan panas. Berbagai organ lunak, seperti jantung dan ginjal
dikelilingi jaringan lemak sebagai pelindung.

b. Jaringan Skeleton
Skeleton berfungsi untuk penyokong tubuh, dilengkapi dengan rangka
yang kaku. Seperti pada jaringan ikat, jaringan ini terdiri atas sel-sel yang
terletak dalam matriks organik, tetapi matriksnya lebih keras. Pada vertebrata
terdapat dua macam jaringan skeleton, yaitu tulang rawan (kartilago) dan
tulang keras. Ikan bertulang rawan, seperti hiu dan ikan pari, seluruh
rangkanya terdiri dari tulang rawan. Mamalia yang rangkanya sebagian besar
tulang keras, memiliki tulang rawan pada persendian dan cawan-cawan
antarvertebra.


Tulang rawan (kartilago) tersusun oleh matriks organik yang mengandung
sel-sel kondroblas. Sel-sel kondroblas menghasilkan matriks yang disebut
kondrin. Tulang rawan dibedakan atas rawan hialin, rawan elastis, dan rawan
fibrosa. Rawan hialin, matriksnya semitransparan mengandung kondroitin
sulfat, perhatikan Gambar 2.20. Rawan hialin terdapat pada ujung-ujung
tulang pipa, tulang rusuk, hidung, saluran pernapasan (laring, trakea, dan
bronkus), dan rangka embrio.

Rawan elastik, matriksnya agak keruh, mengandung serabut elastik kuning.
Jika dibengkokkan, terasa lentur dan mudah kembali ke bentuk semula,
contoh daun telinga, epiglotis, pembuluh Eustachius, tulang rawan pada
faring. Rawan fibrosa, mengandung banyak berkas serabut kolagen yang padat
dalam matriknya, memiliki daya regang yang lebih kuat daripada rawan
hialin, contoh diskus antarruas tulang belakang dan simfisis pubis
(persambungan tulang kemaluan).


Tulang keras, lebih keras daripada tulang rawan karena matriksnya
sebagian besar (70%) terdiri atas garam-garam anorganik terutama kalsium
sulfat, 30% terdiri atas zat organik terutama serabut kolagen. Sel pembentuk
tulang disebut osteoblas, yang menyekresikan bahan organik dan garam fosfat
serta karbonat. Setelah sekeliling osteoblas menjadi keras, osteoblas dinamai
osteosit. Berdasarkan susunan matriksnya, jaringan tulang keras dibedakan
menjadi jaringan tulang kompak dan jaringan tulang spons (bunga karang).
Tulang kompak, disebut demikian karena memiliki matriks yang padat.
Gambar 2.21 merupakan penampang melintang jaringan tulang kompak.
Pada gambar tampak sejumlah
lamela konsentris mengelilingi sebuah
saluran Havers. Pada lamela terdapat
sejumlah lakuna berisi osteosit. Dari tiap
lakuna memancar sejumlah saluran
halus berisi sitoplasma disebut kanalikuli
yang menghubungkan lakuna
yang satu dengan lakuna yang lain.

Hubungan ini berfungsi sebagai
transportasi nutrisi.
Di dalam saluran Havers terdapat
pembuluh darah yang mengangkut
nutrisi, gas pernapasan, serta zat-zat
sisa dari dan ke osteosit. Saluran
Havers juga mengandung pembuluh
limfe dan serabut saraf yang terbungkus
oleh jaringan ikat. Pada permukaan
luar periostium dan permukaan
dalam tulang, lamela tidak membentuk
lingkaran. Di daerah ini terdapat
saluran Volkman. Saluran ini mengandung
pembuluh darah yang berhubungan
dengan pembuluh darah di
dalam saluran Havers.
Matriks tulang kompak terdiri
atas kolagen yang dihasilkan oleh
osteoblas, dan bahan-bahan anorganik.
Kombinasi antara zat organik
dan zat anorganik menghasilkan
sebuah struktur yang kuat. Jaringan
tulang kompak terdapat di sepanjang
tulang pipa. Jaringan yang memiliki
komposisi hampir sama dengan


tulang kompak adalah dentin yang terletak di antara email dan pulpa gigi.
Matriksnya lebih keras daripada tulang kompak karena mengandung 75%
bahan anorganik.

Tulang spons (bunga karang) memiliki matriks yang mengandung lebih
sedikit bahan anorganik (60-65%) dibandingkan dengan tulang kompak.
Matriksnya berongga, berisi sumsum merah yang memproduksi sel-sel darah.
Tulang spons terdapat pada epifisis tulang pipa, tulang pipih, dan tulang
pendek.

c. Jaringan Darah dan Limfe

Jaringan darah tersusun oleh sel-sel darah merah (eritrosit), sel-sel darah
putih (leukosit), dan keping-keping darah, berada dalam cairan yang disebut
plasma. Plasma darah terdiri atas air yang mengandung berbagai zat terlarut
yang dialirkan dari satu bagian tubuh ke bagian tubuh lain. Bahan makanan
(glukosa, lemak, asam amino) dibawa dari usus ke hati, urea dari hati ke
ginjal, dan hormon dari kelenjar buntu ke berbagai organ yang menjadi target.
Sel darah merah (eritrosit) fungsi utamanya adalah membawa oksigen
dari organ respirasi ke berbagai jaringan. Sel darah putih (leukosit) berfungsi
untuk membunuh bibit penyakit. Leukosit dibedakan atas eosinofil, netrofil,
basofil (dihasilkan oleh sumsum merah) dan limfosit, monosit (dihasilkan
oleh jaringan limpoid). Jaringan sumsum merah dan limpoid disebut jaringan
hemopoitik).

Keping darah berperan dalam pembekuan darah. Untuk jelasnya, pelajari
bagan darah pada Gambar 2.22. Limfe (getah bening) mengandung zat-zat
seperti plasma dengan konsentrasi yang berbeda. Di dalam limfe tidak ada
sel darah merah, tetapi ada limfosit sebagai fagosit


3. Jaringan Otot
Kira-kira 40% dari berat tubuh manusia terdiri atas jaringan otot yang
berasal dari lapisan embrional, dibangun oleh sel-sel khusus yang mampu
berkontraksi karena mengandung miofibril sebagai elemen kontraktil. Karena
kemampuannya berkontraksi, jaringan otot berfungsi sebagai alat gerak aktif.
Pada vertebrata termasuk manusia, gerakan anggota gerak dan tubuh
secara keseluruhan disebabkan oleh kontraksi otot yang melekat pada
rangka, sedangkan pada organ yang berongga seperti saluran pencernaan
dan pembuluh darah, terdapat jaringan otot yang berkontraksi untuk
menekan isi organ tersebut sehingga terjadi gerakan makanan dalam usus
dan aliran darah ke seluruh tubuh. Berdasarkan struktur dan cara kerjanya
ada tiga macam otot, yaitu otot polos, otot lurik, dan otot jantung.


4. Jaringan Saraf
Jaringan saraf tersusun oleh kumpulan sel saraf yang disebut neuron.
Neuron merupakan kesatuan fungsional dari sistem saraf yang memiliki
konduktivitas (kemampuan menghantar impuls) sehingga terjadi komunikasi
antara reseptor (sel atau organ yang menerima rangsang, seperti sel-sel saraf
sensorik pada kulit) dan efektor (jaringan atau organ yang mereaksi rangsang,
seperti otot atau kelenjar). Jaringan saraf juga memiliki sel-sel reseptor yang
terbungkus oleh jaringan ikat.
Berdasarkan fungsinya ada tiga macam neuron, yaitu neuron sensorik, neuron
motorik, dan neuron penghubung. Neuron yang menyampaikan impuls ke
pusat saraf (otak dan sumsum tulang belakang) disebut neuron aferen atau neuron
sensorik, sedangkan neuron eferen atau neuron motorik membawa impuls
ke luar dari pusat saraf. Neuron penghubung menghubungkan neuron sensorik
dengan neuron motorik. Neuron ini memiliki dendrit ataupun akson yang
berhubungan dengan neuron lain.



Tiap akson berisi aksoplasma
yang berhubungan dengan sitoplasma
pada badan sel, dan terbungkus oleh
selaput tipis yang merupakan kelanjutan
dari membran plasma pada
badan sel. Akson ataupun dendrit
yang berukuran panjang dilapisi
seludang mielin yang berfungsi
sebagai isolator. Di sebelah luarnya
dibungkus oleh selaput neurilemma,
sel Schwann berperan dalam nutrisi, regenerasi akson yang rusak atau putus
dan membentuk selaput mielin. Di antara dua sel Schwann terdapat node of
Ranvier (simpul Ranvier).

















Share this article :

5 komentar:

Komentarlah Dengan Baik dan Benar. Jangan ada SPAM dan beri kritik saran kepada blog ILMU DUNIA DAN AKHIRAT.

Mengingat Semakin Banyak Komentar SPAM maka setiap komentar akan di seleksi. :)

"Barangsiapa beriman kepada Allah dan hari akhir hendaklah berbicara yang baik-baik atau diam." (HR. Bukhari)

>TERIMA KASIH<

ILMU DUNIA DAN AKHIRAT. Powered by Blogger.
 
Support : Ilmu Dunia dan Akhirat | I.D.D.A. | ILMU DUNIA DAN AKHIRAT
Copyright © 2013. I.D.D.A.╚ - All Rights Reserved
Template Created by Creating Website Published by Mas Template
Proudly powered by Blogger