Ilmu Dunia dan Akhirat Blog's. Mencari, Memahami dan Menyimpulkan. Ilmu Dunia dan Akhirat.

  • banners
  • SISTEM EKSKRESI PADA HEWAN


    Assalamu'alaikum...

    Hayoo sodara-sodara, saya mau share ni SISTEM EKSKRESI PADA HEWAN. yuup.. Sebuah artikel mengenai SISTEM EKSKRESI PADA HEWAN yang akan saya berikan kepada kalian semua. Untuk apa?? Untuk mempintarkan dan memudahkan teman-teman yang ingin mencari SISTEM EKSKRESI PADA HEWAN . oke.. Langsung saja di simak :

    List yang lain :

    Puisi Cin ta : Putri, Seorang Wanita\

    Puisi Cinta : Janjimu

    1. Planaria
    Planaria memiliki organ ekskresi yang sederhana. Organ ekskresi
    pada planaria berupa jaringan menyerupai pipa yang bercabang-cabang.
    Organ tersebut dinamakan nefridia. Ujung dari setiap jaringan tersebut
    terdapat sel api (flame cell). Cara kerja dari sel api yaitu terus bergerak
    untuk menyerap dan menyaring sisa-sisa metabolisme. Sisa-sisa
    metabolisme tersebut akan dialirkan ke nefridia untuk dikeluarkan
    melalui saluran ekskretori.


    2. Cacing Tanah
    Cacing tanah memiliki organ ekskresi yang disebut nefridia. Cacing
    tanah dapat mengeluarkan sampah nitrogen. Nefridia pada cacing tanah
    terdapat pada setiap segmen tubuhnya. Pada nefridia bagian depan,
    terdapat silia yang disebut nefrostom. Nefrostom ini berada dekat pada
    setiap sekat antarsegmen tubuh. Nefrostem berfungsi menyaring cairan
    yang kemudian akan masuk menuju saluran (tubulus), . Saluran tersebut diliputi oleh pembuluh darah kapiler. Di sinilah terjadi reabsorpsi senyawa-senyawa yang masih dibutuhkan oleh
    tubuh.




    3. Belalang

    Belalang memiliki organ ekskresi yang disebut tubulus Malpighi.
    Tubulus tersebut berada pada rongga perut dan melekat pada usus belalang.
    Proses ekskresi diawali dengan masuknya sampah nitrogen dari darah ke
    dalam tubulus Malpighi, . Sisa metabolisme
    tersebut diekskresikan ke dalam usus, kemudian dikeluarkan bersama
    sampah metabolisme padat melalui rektum.



    C Sistem Ekskresi pada Hewan

    1. Sistem Ekskresi pada Hewan Invertebrata
    Sistem ekskresi pada hewan invertebrata lebih sederhana dibandingkan
    hewan vertebrata. Berikut ini beberapa penjelasan mengenai sistem ekskresi
    beberapa hewan invertebrata.


    a. Makhluk Hidup Satu Sel (Protozoa)
    Makhluk hidup satu sel mengeluarkan sisa-sisa metabolismenya dengan
    cara difusi. Karbon dioksida hasil respirasi seluler dikeluarkan dengan cara
    difusi. Selain itu, ada cara lain, yaitu dengan membentuk vakuola yang berisi
    sisa metabolisme


    Pada hewan Coelenterata dan Porifera yang hidup sebagai koloni sel-sel,
    mekanisme ekskresinya dengan cara mendifusikan zat-zat yang akan dibuang
    dari satu sel ke sel yang lain hingga akhirnya dilepaskan ke lingkungan.

    b. Planaria
    Organ ekskresi yang paling sederhana dapat ditemukan pada cacing pipih
    atau planaria. Organ tersebut bernama protonefridia, berupa jaringan pipa yang
    bercabang-cabang di sepanjang tubuhnya. Jaringan pipa tersebut dinamakan
    nefridiofor. Ujung dari cabang nefridiofor disebut sel api (flame cell). Disebut
    demikian karena ujung sel tersebut terus bergerak menyerap dan menyaring
    sisa metabolisme pada sel-sel di sekitarnya. Kemudian, mengalirkannya melalui
    nefridiofor menuju pembuluh ekskretori


    c. Cacing Tanah
    Cacing tanah, moluska, dan beberapa hewan invertebrata lainnya
    memiliki struktur ginjal sederhana yang disebut nefridia. Struktur tersebut
    terdapat di setiap segmen tubuhnya. Dalam cairan tubuh cacing tanah yang
    memenuhi rongga tubuhnya, terkandung sisa metabolisme maupun nutrien.
    Cairan inilah yang disaring oleh ujung tabung berbentuk corong dengan
    silia yang disebut nefrostom.

    Dari nefrostom, hasil yang disaring tersebut kemudian dibawa melewati
    tubulus sederhana yang juga diselaputi oleh kapiler-kapiler darah. Pada
    tubulus ini, terjadi proses reabsorpsi bahan-bahan yang penting, seperti
    garam-garam dan nutrien terlarut. Air dan zat-zat buangan dikumpulkan

    dalam tubulus pengumpul, suatu wadah yang merupakan bagian dari nefridia
    untuk selanjutnya dikeluarkan melalui lubang ekskretori di dinding tubuh,
    yang biasa disebut nefridiofor


    d. Serangga
    Alat ekskresi pada serangga, contohnya belalang adalah tubulus

    Malpighi . Badan Malpighi berbentuk buluh-buluh halus yang
    terikat pada ujung usus posterior belalang dan berwarna kekuningan.
    Zat-zat buangan diambil dari cairan tubuh (hemolimfa) oleh saluran
    Malpighi di bagian ujung. Kemudian, cairan masuk ke bagian proksimal lalu
    masuk ke usus belakang dan dikeluarkan bersama feses dalam bentuk kristalkristal
    asam urat (Hopson & Wessells, 1990: 598).


    2. Sistem Ekskresi pada Hewan Vertebrata
    Pada vertebrata terdapat beberapa tipe ginjal. Di antaranya adalah
    pronefros, mesonefros, dan metanefros. Pronefros adalah tipe ginjal yang
    berkembang pada fase embrio atau larva. Pada tahap selanjutnya, ginjal
    pronefros digantikan oleh tipe ginjal mesonefros. Ketika hewan dewasa


    ginjal mesonefros digantikan oleh ginjal metanefros. Pada Mammalia,
    Reptilia, dan Aves tipe ginjal yang dimiliki adalah mesonefros. Namun, setelah
    dewasa mesonefros akan diganti oleh metanefros.

    a. Pisces (Ikan)
    Ginjal pada ikan adalah sepasang ginjal sederhana yang disebut
    mesonefros. Setelah dewasa, mesonefros akan berkembang menjadi ginjal
    opistonefros. Tubulus ginjal pada ikan mengalami modifikasi menjadi saluran
    yang berperan dalam transport spermatozoa (duktus eferen) ke arah kloaka.
    Ikan memiliki bentuk ginjal yang berbeda, sebagai bentuk adaptasi terhadap
    lingkungan sekitarnya. Pada ikan air tawar, kondisi lingkungan sekitar yang
    hipotonis membuat jaringan ikan sangat mudah mengalami kelebihan cairan.

    Ginjal ikan air tawar memiliki kemiripan dengan ginjal manusia.
    Mekanisme filtrasi dan reabsorpsi juga terjadi pada ginjal ikan. Mineral
    dan zat-zat makanan lebih banyak diabsorbsi, sedangkan air hanya sedikit
    diserap. Dengan sedikit minum dan mengeluarkan urine dalam volume besar,
    ikan air tawar menjaga jaringan tubuhnya agar tetap dalam keadaan
    hipertonik. Ekskresi amonia dilakukan dengan cara difusi melalui insangnya.
    Ikan yang hidup di air laut, memiliki cara adaptasi yang berbeda. Ikan
    air laut sangat mudah mengalami dehidrasi karena air dalam tubuhnya akan
    cenderung mengalir keluar ke lingkungan sekitar melalui insang, mengikuti
    perbedaan tekanan osmotik.

    Ikan air laut tidak memiliki glomerulus sehingga mekanisme filtrasi tidak
    terjadi dan reabsorpsi pada tubulus juga terjadi dalam skala yang kecil. Oleh
    karena itu, ikan air laut beradaptasi dengan banyak meminum air laut,
    melakukan desalinasi (menghilangkan kadar garam dengan melepaskannya
    lewat insang), dan menghasilkan sedikit urine (Gambar 8.12). Urine yang
    dihasilkan akan dikeluarkan melalui lubang di dekat anus. Hal ini berbeda
    dengan pengeluaran urine dari ikan Chondrichthyes, misalnya hiu. Ikan hiu
    mengeluarkan urine melalui seluruh permukaan kulitnya


    b. Amphibia (Katak)
    Tipe ginjal pada Amphibia adalah tipe ginjal opistonefros. Katak jantan
    memiliki saluran ginjal dan saluran kelamin yang bersatu dan berakhir di
    kloaka. Namun, hal tersebut tidak terjadi pada katak betina. Ginjal pada
    katak seperti halnya pada ikan, juga menjadi salah satu organ yang sangat
    berperan dalam pengaturan kadar air dalam tubuhnya.

    Kulit Amphibia yang tipis dapat menyebabkan Amphibia kekurangan
    cairan jika terlalu lama berada di darat. Begitu pula jika katak berada terlalu
    lama dalam air tawar. Air dengan sangat mudah masuk secara osmosis ke
    dalam jaringan tubuh melalui kulitnya


    Katak dapat mengatur laju filtrasi dengan bantuan hormon, sesuai
    dengan kondisi air di sekitarnya. Ketika berada dalam air dengan jangka
    waktu yang lama, katak mengeluarkan urine dalam volume yang besar.
    Namun, kandung kemih katak dapat dengan mudah terisi air. Air tersebut
    dapat diserap oleh dinding kandung kemihnya sebagai cadangan air ketika
    katak berada di darat untuk waktu yang lama.

    c. Reptilia
    Tipe ginjal pada Reptilia adalah metanefros. Pada saat embrio, Reptilia
    memiliki ginjal tipe pronefros, kemudian pada saat dewasa berubah menjadi
    mesonefros hingga metanefros (


    Hasil ekskresi pada Reptilia adalah asam urat. Asam urat ini tidak terlalu
    toksik jika dibandingkan dengan amonia yang dihasilkan oleh Mammalia.
    Asam urat dapat juga diekskresikan tanpa disertai air dalam volume yang
    besar. Asam urat tersebut dapat diekskresikan dalam bentuk pasta berwarna
    putih.

    Beberapa jenis Reptilia juga menghasilkan amonia. Misalnya, pada buaya
    dan kura-kura. Penyu yang hidup di lautan memiliki kelenjar ekskresi untuk
    mengeluarkan garam yang dikandung dalam tubuhnya. Muara kelenjar ini
    adalah di dekat mata. Hasil ekskresi yang dihasilkan berupa air yang
    mengandung garam. Ketika penyu sedang bertelur, kita seringkali melihatnya
    mengeluarkan semacam air mata. Namun, yang kita lihat sebenarnya adalah
    hasil ekskresi garam. Ular, buaya, dan aligator tidak memiliki kandung kemih
    sehingga asam urat yang dihasilkan ginjalnya keluar bersama feses melalui
    kloaka.


    d. Aves (Burung)
    Burung memiliki ginjal dengan tipe metanefros. Burung tidak memiliki
    kandung kemih sehingga urine dan fesesnya bersatu dan keluar melalui
    lubang kloaka. Urine pada burung diekskresikan dalam bentuk asam urat.
    Metabolisme burung sangat cepat. Dengan demikian, sistem ekskresi
    juga harus memiliki dinamika yang sangat tinggi. Peningkatan efektivitas
    ini terlihat pada jumlah nefron yang dimiliki oleh ginjal burung. Setiap
    1 mm3 ginjal burung, terdapat 100–500 nefron. Jumlah tersebut hampir 100
    kali lipat jumlah nefron pada manusia.

    Jenis burung laut juga memiliki kelenjar ekskresi garam yang bermuara
    pada ujung matanya. Hal tersebut untuk mengimbangi pola makannya yang
    memangsa ikan laut dengan kadar garam tinggi.

    Oke..  SISTEM EKSKRESI PADA HEWAN saya akhiri dulu ya.. dan terima kasih telah membaca SISTEM EKSKRESI PADA HEWAN ini.. hehehe. Tapi apa alasan anda mau membaca ini? dan mampir ke blog aku yang sederhana ini??? mungkin karena tak sengaja kali ya?? hehehe makasih banyak atas semuanya.. :)

    Wa'alaikumsalam...

    The End
    Tag : SCIENCE
    5 Komentar untuk "SISTEM EKSKRESI PADA HEWAN"

    Nice info gan, jadi nambah pengetahuan nih..

    matabs gan informasinya mengenai pengetahuan tentang sistemekresi pada hewan semoga bisa bermanfaat bagi khalayak semua

    wah, belalang keren juga sistem ekskresinya... unik juga ya hewan2 ini... Subhanallah :)

    Komentarlah Dengan Baik dan Benar. Jangan ada SPAM dan beri kritik saran kepada blog ILMU DUNIA DAN AKHIRAT.

    Mengingat Semakin Banyak Komentar SPAM maka setiap komentar akan di seleksi. :)

    "Barangsiapa beriman kepada Allah dan hari akhir hendaklah berbicara yang baik-baik atau diam." (HR. Bukhari)

    >TERIMA KASIH<

    ILMU DUNIA DAN AKHIRAT. Powered by Blogger.
    Back To Top