Home » » SISTEM EKSKRESI PADA HEWAN

SISTEM EKSKRESI PADA HEWAN

Written By Naufaldi Rafif Satriya on Sunday, November 18, 2012 | 5:33 PM


Assalamu'alaikum...

Hayoo sodara-sodara, saya mau share ni SISTEM EKSKRESI PADA HEWAN. yuup.. Sebuah artikel mengenai SISTEM EKSKRESI PADA HEWAN yang akan saya berikan kepada kalian semua. Untuk apa?? Untuk mempintarkan dan memudahkan teman-teman yang ingin mencari SISTEM EKSKRESI PADA HEWAN . oke.. Langsung saja di simak :

List yang lain :

Puisi Cin ta : Putri, Seorang Wanita\

Puisi Cinta : Janjimu

1. Planaria
Planaria memiliki organ ekskresi yang sederhana. Organ ekskresi
pada planaria berupa jaringan menyerupai pipa yang bercabang-cabang.
Organ tersebut dinamakan nefridia. Ujung dari setiap jaringan tersebut
terdapat sel api (flame cell). Cara kerja dari sel api yaitu terus bergerak
untuk menyerap dan menyaring sisa-sisa metabolisme. Sisa-sisa
metabolisme tersebut akan dialirkan ke nefridia untuk dikeluarkan
melalui saluran ekskretori.


2. Cacing Tanah
Cacing tanah memiliki organ ekskresi yang disebut nefridia. Cacing
tanah dapat mengeluarkan sampah nitrogen. Nefridia pada cacing tanah
terdapat pada setiap segmen tubuhnya. Pada nefridia bagian depan,
terdapat silia yang disebut nefrostom. Nefrostom ini berada dekat pada
setiap sekat antarsegmen tubuh. Nefrostem berfungsi menyaring cairan
yang kemudian akan masuk menuju saluran (tubulus), . Saluran tersebut diliputi oleh pembuluh darah kapiler. Di sinilah terjadi reabsorpsi senyawa-senyawa yang masih dibutuhkan oleh
tubuh.




3. Belalang

Belalang memiliki organ ekskresi yang disebut tubulus Malpighi.
Tubulus tersebut berada pada rongga perut dan melekat pada usus belalang.
Proses ekskresi diawali dengan masuknya sampah nitrogen dari darah ke
dalam tubulus Malpighi, . Sisa metabolisme
tersebut diekskresikan ke dalam usus, kemudian dikeluarkan bersama
sampah metabolisme padat melalui rektum.



C Sistem Ekskresi pada Hewan

1. Sistem Ekskresi pada Hewan Invertebrata
Sistem ekskresi pada hewan invertebrata lebih sederhana dibandingkan
hewan vertebrata. Berikut ini beberapa penjelasan mengenai sistem ekskresi
beberapa hewan invertebrata.


a. Makhluk Hidup Satu Sel (Protozoa)
Makhluk hidup satu sel mengeluarkan sisa-sisa metabolismenya dengan
cara difusi. Karbon dioksida hasil respirasi seluler dikeluarkan dengan cara
difusi. Selain itu, ada cara lain, yaitu dengan membentuk vakuola yang berisi
sisa metabolisme


Pada hewan Coelenterata dan Porifera yang hidup sebagai koloni sel-sel,
mekanisme ekskresinya dengan cara mendifusikan zat-zat yang akan dibuang
dari satu sel ke sel yang lain hingga akhirnya dilepaskan ke lingkungan.

b. Planaria
Organ ekskresi yang paling sederhana dapat ditemukan pada cacing pipih
atau planaria. Organ tersebut bernama protonefridia, berupa jaringan pipa yang
bercabang-cabang di sepanjang tubuhnya. Jaringan pipa tersebut dinamakan
nefridiofor. Ujung dari cabang nefridiofor disebut sel api (flame cell). Disebut
demikian karena ujung sel tersebut terus bergerak menyerap dan menyaring
sisa metabolisme pada sel-sel di sekitarnya. Kemudian, mengalirkannya melalui
nefridiofor menuju pembuluh ekskretori


c. Cacing Tanah
Cacing tanah, moluska, dan beberapa hewan invertebrata lainnya
memiliki struktur ginjal sederhana yang disebut nefridia. Struktur tersebut
terdapat di setiap segmen tubuhnya. Dalam cairan tubuh cacing tanah yang
memenuhi rongga tubuhnya, terkandung sisa metabolisme maupun nutrien.
Cairan inilah yang disaring oleh ujung tabung berbentuk corong dengan
silia yang disebut nefrostom.

Dari nefrostom, hasil yang disaring tersebut kemudian dibawa melewati
tubulus sederhana yang juga diselaputi oleh kapiler-kapiler darah. Pada
tubulus ini, terjadi proses reabsorpsi bahan-bahan yang penting, seperti
garam-garam dan nutrien terlarut. Air dan zat-zat buangan dikumpulkan

dalam tubulus pengumpul, suatu wadah yang merupakan bagian dari nefridia
untuk selanjutnya dikeluarkan melalui lubang ekskretori di dinding tubuh,
yang biasa disebut nefridiofor


d. Serangga
Alat ekskresi pada serangga, contohnya belalang adalah tubulus

Malpighi . Badan Malpighi berbentuk buluh-buluh halus yang
terikat pada ujung usus posterior belalang dan berwarna kekuningan.
Zat-zat buangan diambil dari cairan tubuh (hemolimfa) oleh saluran
Malpighi di bagian ujung. Kemudian, cairan masuk ke bagian proksimal lalu
masuk ke usus belakang dan dikeluarkan bersama feses dalam bentuk kristalkristal
asam urat (Hopson & Wessells, 1990: 598).


2. Sistem Ekskresi pada Hewan Vertebrata
Pada vertebrata terdapat beberapa tipe ginjal. Di antaranya adalah
pronefros, mesonefros, dan metanefros. Pronefros adalah tipe ginjal yang
berkembang pada fase embrio atau larva. Pada tahap selanjutnya, ginjal
pronefros digantikan oleh tipe ginjal mesonefros. Ketika hewan dewasa


ginjal mesonefros digantikan oleh ginjal metanefros. Pada Mammalia,
Reptilia, dan Aves tipe ginjal yang dimiliki adalah mesonefros. Namun, setelah
dewasa mesonefros akan diganti oleh metanefros.

a. Pisces (Ikan)
Ginjal pada ikan adalah sepasang ginjal sederhana yang disebut
mesonefros. Setelah dewasa, mesonefros akan berkembang menjadi ginjal
opistonefros. Tubulus ginjal pada ikan mengalami modifikasi menjadi saluran
yang berperan dalam transport spermatozoa (duktus eferen) ke arah kloaka.
Ikan memiliki bentuk ginjal yang berbeda, sebagai bentuk adaptasi terhadap
lingkungan sekitarnya. Pada ikan air tawar, kondisi lingkungan sekitar yang
hipotonis membuat jaringan ikan sangat mudah mengalami kelebihan cairan.

Ginjal ikan air tawar memiliki kemiripan dengan ginjal manusia.
Mekanisme filtrasi dan reabsorpsi juga terjadi pada ginjal ikan. Mineral
dan zat-zat makanan lebih banyak diabsorbsi, sedangkan air hanya sedikit
diserap. Dengan sedikit minum dan mengeluarkan urine dalam volume besar,
ikan air tawar menjaga jaringan tubuhnya agar tetap dalam keadaan
hipertonik. Ekskresi amonia dilakukan dengan cara difusi melalui insangnya.
Ikan yang hidup di air laut, memiliki cara adaptasi yang berbeda. Ikan
air laut sangat mudah mengalami dehidrasi karena air dalam tubuhnya akan
cenderung mengalir keluar ke lingkungan sekitar melalui insang, mengikuti
perbedaan tekanan osmotik.

Ikan air laut tidak memiliki glomerulus sehingga mekanisme filtrasi tidak
terjadi dan reabsorpsi pada tubulus juga terjadi dalam skala yang kecil. Oleh
karena itu, ikan air laut beradaptasi dengan banyak meminum air laut,
melakukan desalinasi (menghilangkan kadar garam dengan melepaskannya
lewat insang), dan menghasilkan sedikit urine (Gambar 8.12). Urine yang
dihasilkan akan dikeluarkan melalui lubang di dekat anus. Hal ini berbeda
dengan pengeluaran urine dari ikan Chondrichthyes, misalnya hiu. Ikan hiu
mengeluarkan urine melalui seluruh permukaan kulitnya


b. Amphibia (Katak)
Tipe ginjal pada Amphibia adalah tipe ginjal opistonefros. Katak jantan
memiliki saluran ginjal dan saluran kelamin yang bersatu dan berakhir di
kloaka. Namun, hal tersebut tidak terjadi pada katak betina. Ginjal pada
katak seperti halnya pada ikan, juga menjadi salah satu organ yang sangat
berperan dalam pengaturan kadar air dalam tubuhnya.

Kulit Amphibia yang tipis dapat menyebabkan Amphibia kekurangan
cairan jika terlalu lama berada di darat. Begitu pula jika katak berada terlalu
lama dalam air tawar. Air dengan sangat mudah masuk secara osmosis ke
dalam jaringan tubuh melalui kulitnya


Katak dapat mengatur laju filtrasi dengan bantuan hormon, sesuai
dengan kondisi air di sekitarnya. Ketika berada dalam air dengan jangka
waktu yang lama, katak mengeluarkan urine dalam volume yang besar.
Namun, kandung kemih katak dapat dengan mudah terisi air. Air tersebut
dapat diserap oleh dinding kandung kemihnya sebagai cadangan air ketika
katak berada di darat untuk waktu yang lama.

c. Reptilia
Tipe ginjal pada Reptilia adalah metanefros. Pada saat embrio, Reptilia
memiliki ginjal tipe pronefros, kemudian pada saat dewasa berubah menjadi
mesonefros hingga metanefros (


Hasil ekskresi pada Reptilia adalah asam urat. Asam urat ini tidak terlalu
toksik jika dibandingkan dengan amonia yang dihasilkan oleh Mammalia.
Asam urat dapat juga diekskresikan tanpa disertai air dalam volume yang
besar. Asam urat tersebut dapat diekskresikan dalam bentuk pasta berwarna
putih.

Beberapa jenis Reptilia juga menghasilkan amonia. Misalnya, pada buaya
dan kura-kura. Penyu yang hidup di lautan memiliki kelenjar ekskresi untuk
mengeluarkan garam yang dikandung dalam tubuhnya. Muara kelenjar ini
adalah di dekat mata. Hasil ekskresi yang dihasilkan berupa air yang
mengandung garam. Ketika penyu sedang bertelur, kita seringkali melihatnya
mengeluarkan semacam air mata. Namun, yang kita lihat sebenarnya adalah
hasil ekskresi garam. Ular, buaya, dan aligator tidak memiliki kandung kemih
sehingga asam urat yang dihasilkan ginjalnya keluar bersama feses melalui
kloaka.


d. Aves (Burung)
Burung memiliki ginjal dengan tipe metanefros. Burung tidak memiliki
kandung kemih sehingga urine dan fesesnya bersatu dan keluar melalui
lubang kloaka. Urine pada burung diekskresikan dalam bentuk asam urat.
Metabolisme burung sangat cepat. Dengan demikian, sistem ekskresi
juga harus memiliki dinamika yang sangat tinggi. Peningkatan efektivitas
ini terlihat pada jumlah nefron yang dimiliki oleh ginjal burung. Setiap
1 mm3 ginjal burung, terdapat 100–500 nefron. Jumlah tersebut hampir 100
kali lipat jumlah nefron pada manusia.

Jenis burung laut juga memiliki kelenjar ekskresi garam yang bermuara
pada ujung matanya. Hal tersebut untuk mengimbangi pola makannya yang
memangsa ikan laut dengan kadar garam tinggi.

Oke..  SISTEM EKSKRESI PADA HEWAN saya akhiri dulu ya.. dan terima kasih telah membaca SISTEM EKSKRESI PADA HEWAN ini.. hehehe. Tapi apa alasan anda mau membaca ini? dan mampir ke blog aku yang sederhana ini??? mungkin karena tak sengaja kali ya?? hehehe makasih banyak atas semuanya.. :)

Wa'alaikumsalam...

The End
Share this article :

5 komentar:

  1. Nice info gan, jadi nambah pengetahuan nih..

    ReplyDelete
  2. matabs gan informasinya mengenai pengetahuan tentang sistemekresi pada hewan semoga bisa bermanfaat bagi khalayak semua

    ReplyDelete
  3. wah, belalang keren juga sistem ekskresinya... unik juga ya hewan2 ini... Subhanallah :)

    ReplyDelete

Komentarlah Dengan Baik dan Benar. Jangan ada SPAM dan beri kritik saran kepada blog ILMU DUNIA DAN AKHIRAT.

Mengingat Semakin Banyak Komentar SPAM maka setiap komentar akan di seleksi. :)

"Barangsiapa beriman kepada Allah dan hari akhir hendaklah berbicara yang baik-baik atau diam." (HR. Bukhari)

>TERIMA KASIH<

ILMU DUNIA DAN AKHIRAT. Powered by Blogger.
 
Support : Ilmu Dunia dan Akhirat | I.D.D.A. | ILMU DUNIA DAN AKHIRAT
Copyright © 2013. I.D.D.A.╚ - All Rights Reserved
Template Created by Creating Website Published by Mas Template
Proudly powered by Blogger