Home » , , » 100 Ilmuan Muslim Yang Belum Banyak Diketahui Serta Peranannya (Part 1)

100 Ilmuan Muslim Yang Belum Banyak Diketahui Serta Peranannya (Part 1)

Written By Naufaldi Rafif Satriya on Saturday, June 16, 2012 | 11:53 AM




Abu Rayhan al-Biruni
Abu Rayhan al-Biruni adalah seorang ilmuwan besar, fisikawan, astronom, sosiolog, sastrawan, sejarawan dan matematikawan yang nilainya tidak pernah diketahui. Dia dipertimbangkan sebagai bapak dari unified field theory (teori segala sesuatu -pen) oleh peraih penghargaan Nobel Profesor Abdus Salam. Abu Rayhan al-Biruni hidup hampir seribu tahun yang lalu dan sezaman dengan Ibn Sina (Avicenna) dan Sultan Mahmoud Ghazni.

Beberapa Ilmuan Muslim dari Abad ke 8 Sampai 14 :
701 (Meninggal) ==> Khalid Ibn Yazeed è Ilmuwan kimia
721-803 ==> Jabir Ibn Haiyan
èIlmuwan kimia (Seorang ilmuwan kimia muslim populer)
740 ==> Al-Asma’i
èAhli ilmu hewan, ahli tumbuh-tumbuhan, ahli pertanian
780 ==> Al-Khwarizmi (Algorizm)
èMatematika (Aljabar, Kalkulus), Astronomi





Kitab al-Hayawan. Sebuah kitab berisi ensklopedia berbagai jenis binatang karya ahli ilmu hewan muslim al-Jahiz. Pada kitab ini al-Jahiz memaparkan berbagai macam teori, salah satunya mengenai interaksi antara hewan dengan lingkungannya.
——————————————————————————————————
776-868                       ==> Amr Ibn Bahr al-Jahiz
èAhli ilmu hewan
787                              ==> Al Balkhi, Ja’far Ibn Muhammad (Albumasar)
èAstronomi
796 (Meninggal)          ==> Al-Fazari, Ibrahim Ibn Habib
è Astronomi
800                             ==> Ibn Ishaq Al-Kindi (Alkindus)
è Kedokteran, Filsafat, Fisika, Optik
815                              ==> Al-Dinawari, Abu Hanifa Ahmed Ibn Dawud
èMatematika, Sastra
816                              ==> Al Balkhi ==> Ilmu Bumi (Geography)
836                              ==> Thabit Ibn Qurrah (Thebit) ==> Astronomi, Mekanik, Geometri, Anatomi
838-870                       ==> Ali Ibn Rabban Al-Tabari ==> Kedokteran, Matematika
852                              ==> Al Battani Abu Abdillah ==> Matematika, Astronomi, Insinyur
857                              ==> Ibn Masawaih You’hanna ==> Kedokteran
858-929                       ==> Abu Abdullah Al Battani (Albategnius) ==> Astronomi, Matematika
860                              ==> Al-Farghani, Abu al-Abbas (Al-Fraganus) ==> Astronomy, Tehnik Sipil
864-930                        ==> Al-Razi (Rhazes) ==> Kedokteran, Ilmu Kedokteran Mata, Ilmu Kimia
973 (Meninggal)          ==> Al-Kindi ==> Fisika, Optik, Ilmu Logam, Ilmu Kelautan, Filsafat
888 (Meninggal)          ==> Abbas Ibn Firnas ==> Mekanika, Ilmu Planet, Kristal Semu
900 (Meninggal)          ==> Abu Hamed Al-Ustrulabi ==> Astronomi
903-986                       ==> Al-Sufi (Azophi) ==> Astronomi
908                              ==> Thabit Ibn Qurrah ==> Kedokteran, Insinyur
912 (Meninggal)          ==> Al-Tamimi Muhammad Ibn Amyal (Attmimi) ==> Ilmu Kimia
923 (Meninggal)          ==> Al-Nirizi, AlFadl Ibn Ahmed (Altibrizi) ==> Matematika, Astronomi
930                              ==> Ibn Miskawayh, Ahmed Abu Ali ==> Kedokteran, Ilmu Kimia
932                              ==> Ahmed Al-Tabari ==> Kedokteran
934                              ==> Al-Istakhr II ==> Ilmu Bumi (Peta Bumi)
936-1013                     ==> Abu Al-Qosim Al-Zahravi (Albucasis) ==> Ilmu Bedah, Kedokteran
940-997                       ==> Abu Wafa Muhammad Al-Buzjani ==> Matematika, Astronomi, Geometri
943                              ==> Ibn Hawqal ==> Ilmu Bumi (Peta Dunia)
950                              ==> Al Majrett’ti Abu al-Qosim ==> Astronomi, Ilmu Kimia, Matematika
958 (Meninggal)          ==> Abul Hasan Ali al-Mas’udi ==> Ilmu Bumi, Sejarah
960 (Meninggal)          ==> Ibn Wahshiyh, Abu Bakar ==> Ilmu Kimia, Ilmu Tumbuh-tumbuhan
965-1040                     ==> Ibn Al-Haitham (Alhazen) ==> Fisika, Optik, Matematika




973-1048                     ==> Abu Rayhan Al-Biruni ==> Astronomy, Matematika, Sejarah, Sastra
976                              ==> Ibn Abil Ashath ==> Kedokteran
980-1037                     ==> Ibn Sina (Avicenna) ==> Kedokteran, Filsafat, Matematika, Astronomi
983                             ==> Ikhwan A-Safa (Assafa) ==> (Kelompok Ilmuwan Muslim)
1001                            ==> Ibn Wardi ==> Ilmu Bumi (Peta Dunia)
1008 (Meninggal)        ==> Ibn Yunus ==> Astronomy, Matematika.
1019                            ==> Al-Hasib Alkarji ==> Matematika
1029-1087                   ==> Al-Zarqali (Arzachel) ==> Matematika, Astronomi, Syair
1044                            ==> Omar Al-Khayyam ==> Matematika, Astronomi, Penyair
1060 (Meninggal)        ==> Ali Ibn Ridwan Abu Hassan Ali ==> Kedokteran
1077                            ==> Ibn Abi Sadia Abul Qasim ==> Kedokteran
1090-1161                   ==> Ibn Zuhr (Avenzoar) ==> Ilmu Bedah, Kedokteran
1095                            ==>Ibn Bajah, Mohammed Ibn Yahya (Avenpace) ==> Astronomi, Kedokteran
1097                            ==> Ibn Al-Baitar Diauddin (Bitar) ==> Ilmu Tumbuh-Tumbuhan, Kedokteran, Ilmu
————————————————————————————————————————

1099                            ==>Al-Idrisi (Dreses) ==> Ilmu Bumi (Geography), Ahli Ilmu Hewan, Peta Dunia (Peta Pertama)

1110-1185                  ==> Ibn Tufayl, Abubacer Al-Qaysi ==> Filosofi, Kedokteran

1120 (Meninggal)        ==> Al-Tuhra-ee, Al-Husain Ibn Ali ==>Ahli Kimia, Penyair

1128                            - Ibn Rushd (Averroe’s) ==> Filosofi, Kedokteran, Astronomi
1
135                            - Ibn Maymun, Musa (Maimonides) ==> Kedokteran, Filosofi

1136 – 1206                - Al-Razaz Al-Jazari ==> Astronomi, Seni, Insinyur mekanik

1140                            - Al-Badee Al-Ustralabi ==> Astronomi, Matematika
1155 (Meningal)          - Abdel-al Rahman al Khazin ==>Astronomi
1162                            - Al Baghdadi, Abdel-Lateef Muwaffaq ==> Kedokteran, Ahli Bumi (Geography)

1165                            - Ibn A-Rumiyyah Abul’Abbas (Annabati) ==> Ahli Tumbuh-tumbuhan
1173                            - Rasheed Al-Deen Al-Suri ==> Ahli Tumbuh-tumbuhan
1180                            - Al-Samawal ==> Matematika
1184                            - Al-Tifashi, Shihabud-Deen (Attifashi) ==>Ahli Logam, Ahli Batu-batuan
1201-1274                   - Nasir Al-Din Al-Tusi ==> Astronomi, Non-Euclidean Geometri




1203                            - Ibn Abi-Usaibi’ah, Muwaffaq Al-Din ==> Kedokteran
1204 (Meninggal)        - Al-Bitruji (Alpetragius) ==> Astronomi
1213-1288                   - Ibn Al-Nafis Damishqui ==> Astronomi
1236                            - Kutb Aldeen Al-Shirazi ==> Astronomi, Ilmu Bumi (Geography)
1248 (Meninggal)        ==> Ibn Al-Baitar ==> Farmasi, Ahli Tumbuh-tumbuhan (Botany)
1258                            - Ibn Al-Banna (Al Murrakishi), Azdi ==> Kedokteran, Matematika
1262                            - Abu al-Fath Abd al-Rahman al-Khazini ==> Fisika, Astronomi
1273-1331                   - Al-Fida (Abdulfeda) ==> Astronomi, Ilmu Bumi (Geography)
1360                            - Ibn Al-Shater Al Dimashqi ==> Astronomi, Matematika
1320 (Meninggal)        - Al Farisi Kamalud-deen Abul-Hassan ==>Astronomy, Fisika
1341 (Meninggal)        - Al Jildaki, Muhammad Ibn Aidamer ==> Ilmu Kimia
1351                            - Ibn Al-Majdi, Abu Abbas Ibn Tanbugha ==> Matematika, Astronomi
1359                            - Ibn Al-Magdi, Shihab Udden Ibn Tanbugha ==> Matematika, Astronomi
——————————————————————————————————————————————————————-
1375 (Meninggal)                    - Ibn al-Shatir ==> Astronomi
1393-1449 - Ulugh Beg          ==> Astronomi
1424                                        - Ghiyath al-Din al Kashani ==> Analisis Numerikal, Perhitungan

Dengan deretan sarjana muslim seperti itu, tidaklah sulit untuk menyetujui apa yang dikatakan George Sarton, ” Tugas utama kemanusian telah dicapai oleh para muslim. Filosof terbaik, Al-Farabi adalah seorang muslim. Matematikawan terbaik Abul Kamil dan Ibn Sina adalah muslim. Ahli geography (Ilmu Bumi) dan ensklopedia terbaik Al-Masudi adalah seorang muslim dan Al-Tabari ahli sejarah terbaik juga seorang muslim.

Bahkan Para Ilmuan Muslim Kurang begitu Terkenal karena Kehebatannya, seperti :
1. Teori Relativitas Al-Kindi

Teori relativitas ternyata telah lama dicetuskan oleh ilmuwan Muslim di abad ke 8 Masehi. Dialah Abu Yusuf bin Ashaq al-Kindi. Ia adalah seorang ilmuwan dan filsuf Muslim keturunan Yaman dan lahir di Kufah tahun 185 H/796 M. Ilmuwan yang di kenal sebagai Alkindus di Barat ini menyatakan bahwa manusia adalah makhluk relatif dan terbatas. Walaupun semua makhluk individu tidak terbatas banyaknya, namun waktu, gerak, badan dan ruang adalah terbatas. Intinya, Al-Kindi hendak menyatakan bahwa “Waktu itu ada (eksis) karena ada gerak. Gerak itu adak karena badan/tubuh yang bergerak…. Jika tidak gerak, ada tubuh yang diperlukan untuk bergerak; jika ada badan, ada gerakan yang dilakukan”. Dengan kata lain, ruang, waktu, gerakan dan benda itu bersifat relatif satu sama lain dan tidak dapat berlaku sendiri (independent) atau absolut. Seluruhnya bersifat relatif terhadap objek-objek lain dan terhadap si pengamat.

Teori yang di gagas Einstein juga hampir sama. Ia menyatakan bahwa “Eksistensi-eksistensi dalam dunia ini terbatas, walaupun eksistensi itu sendiri tidak terbatas”. Tentu saja karena kedua ilmuwan ini hidup dan berkarya di zaman yang berbeda, maka temuan dari Einstein akan lebih mendetail dan dijelaskan dengan dukungan penelitian dan pengujian ilmiah. Bahkan telah terbukti dengan adanya ledakan bom atom di Nagasaki dan Hiroshima. Namun yang jelas, ternyata teori relativitas yang di gagas oleh Albert Einstein pada abad ke 20 telah lebih dulu di temukan oleh ilmuwan Muslim yaitu Abu Yusuf bin Ashaq al-Kindi sekitar seribu seratus tahun sebelumnya.

Sesungguhnya, konsep tentang relativitas ruang dan waktu ini sudah tidak asing lagi bagi kalangan ilmuwan Islam terdahulu. Karena di dalam Al-Qur`an telah disebutkan berbagai ayat yang mengisyaratkan relatifnya ruang dan waktu, seperti:
“Sesungguhnya sehari disisi Allah adalah seperti seribu tahun menurut perhitunganmu” (QS. Al-Hajj [22] : 47).

“Dia mengatur urusan dari langit ke bumi, kemudian (Urusan) itu naik kepada-Nya dalam satu hari yang kadarnya (lamanya) adalah seribu tahun menurut perhitunganmu” (QS. As-Sajdah [32] : 5)

Jadi, sekarang apakah kita tidak bangga dan termotivasi untuk mengembalikan kejayaan Islam itu.

2. Observatorium buatan Nasir ad-Din at-Tusi (Malagha) dan Ulugh Beg
Menurut catatan sejarah, observatorium pertama yang di buat manusia adalah yang di bangun pada zaman Yunani kuno oleh seorang asronom yang bernama Hipparchus pada tahun 150 SM. Sejak saat itu di seluruh dunia membangun observatorium hanya mencontoh mentah-mentah bangunan ini hingga belakangan ilmuwan Islam lah yang mengoreksinya. Tahun 1259 M, Nasir ad-Din at-Tusi lah yang melakukan hal itu. Ia memimpin beberapa astronom Muslim untuk membangun sebuah observatorium di Malagha. Observatorium itu pun dilengkapi dengan perpustakaan yang koleksi bukunya mencapai 400 ribu judul lebih.

Selain itu, sebuah obsernatorium yang lebih canggih dibangun di Samarkand dengan nama Ulugh Beg. Seorang ahli astronomi Barat, Kevin Krisciunas dalam tulisannya berjudul The Legacy of Ulugh Beg mengungkapkan, obserbatorium termegah yang dibangun sarjana Muslim adalah Ulugh Beg. Observatorium itu di bangun seorang penguasa keturunan Mongol yang bertahta di Samarkand bernama Muhammad Taragai Ulugh Beg (1393-1449). Dia adalah pejabat yang menaruh perhatian terhadap astronomi. Ketertarikannya itu bermula ketika dia mengunjungi observatorium di Malagha yang di bangun oleh astronom terkemuka, Nasir ad-Din at-Tusi.

Geliat pengkajian astronomi di Samarkand mulai berlangsung pada tahun 1201 M. Namun aktivitas astronomi yang sesungguhnya di wilayah kekuasaan Ulugh Beg mulai berlangsung sejak tahun 1408 M. Sejak saat itu semangat pengkajian astronomi di Samarkand mencapai puncaknya ketika pejabat dan ahli astronomi itu memerintahkan membangun sebuah observatorium Ulugh Beg (sesuai dengan namanya) untuk kepentingan penelitian. Namun sayang, setelah Ulugh Beg meninggal maka observatorium itu mulai di abaikan hingga akhirnya rusak dan terbengkalai.
3. Sistem air mancur temuan Banu Musa bersaudara
Dalam berbagai catatan sejarah, terungkap bahwa umat Islam menjadi umat pertama yang menggunakan media air dalam rancangan sebuah taman. Di samping itu, masjid, istana, rumah juga ikut menggunakan media air ini dalam mempercantik arsitekturnya. Namun sayang hanya sedikit atau bahkan tidak ada lagi yang pernah mengangkat hal ini, bahwa ilmuwan Muslim lah yang pertama-tama mengenalkan sistem air mancur.

Banu Musa bersaudara telah meninggalkan warisan yang berharga bagi umat Islam, yaitu karya-karya yang terangkum di dalam kitab  Al-Hiyal (kitab perangkat mekanik) yang bermanfaat dalam perkembangan teknik dan arsitektur Islam. Dalam kitab ini Banu Musa bersaudara membuat rancangan air mancur dalam berbagai teknik. Prinsip-prinsip geometri dan fisika telah mereka terapkan dalam pembuatan air mancur dan mereka juga telah mampu membuat tujuh model rancangan air mancur. Sungguh menakjubkan.
4. Resep pembuatan sabun ala Ar-Razi
Sabun telah di kenal oleh umat Islam sejak abad ke 9 Masehi. Dikenalkan pertama kali oleh ilmuwan Muslim yang bernama Ar-Razi atau di Barat sebagai Razes. Menurut Razi untuk membuat sabun di butuhkan campuran beragam minyak tumbuhan (diantaranya minyak zaitun) dan mencampurnya dengan sodium hidroksida serta bahan-bahan aromatik seperti thyme.

Betapa hebatnya para ilmuwan Muslim terdahulu. Mereka telah benar-benar menerapkan salah satu sabda Rasulullah SAW bahwa “Kebersihan itu sebagian dari iman”. Selain Ar-Razi, para ahli kimia Muslim abad pertengahan juga telah menemukan sabun wangi yang berwarna serta sabun cair. Bahkan baru-baru ini telah ditemukan sebuah manuskrip dari abas ke 13 yang berisi tata cara pembuatan sabun secara lebih mendetail. Berikut penjelasannya:

“Sediakan sejumlah minyak wijen, sedikit potash, alkali dan beberapa jeruk lemon. Kemudian, campur dan rebus bahan-bahan tersebut. Setelah masak, tuangkan campuran penas tersebut dalam cetakan lalu biarkan sampai menjadi dingin. Maka jadilah sabun batangan”

Sungguh mengherankan bila di Eropa pada abad pertengahan para raja dan kalangan bangsawan masih menggunakan air seni manusia untuk mencuci baju dan mandi, peradaban Islam telah menikmati sabun dalam bentuk batangan. Tapi ironisnya, sumbangsih peradaban Islam ini tidak disebutkan dalam banyak buku sejarah penemuan dunia. Kurun waktu dari abad ke 1 hingga 15 diloncati begitu saja seolah-olah lima belas abad itu tidak ada artinya.


6. Sampo buatan Sake Dean Mahomet
Tahukah Anda siapa yang memperkenalkan pertama kali sampo ke dunia Barat? Dialah seorang Muslim dari Benggali (India) bernama Sake Dean Mahomet yang membawa sampo ke daratan Eropa pada tahun 1759. Dia kemudian memperkenalkan sampo di Inggris dengan membuka “Mahomed`s Indian Vapor Baths” atau “Pemandian wangi gaya India milik Mahomet” di kawasan pelabuhan Brighton. Pemandian ini lebih mirip dengan pemandian gaya Turki atau Turkish Baths dimana ia juga menawarkan pijat terapi kulit kepala atau champi (mengeramas). Mahomet bahkan kemudian di tunjuk sebagai seorang ahli bedah khusus menyampo bagi raja George IV dan William IV.

Sejak saat itu para penata rabut di Inggris kemudian mulai membuat sampo dengan cara merebuh sabun batangan dengan air matang yang di bubuhi dengan rempah-rempah untuk membuat rembut berkilau dan wangi.
***
Namun sayang, banyak yang menduga pada era itu (abad pertengahan) adalah abad yang sia-sia. Kalau pun menyadarinya itu tidak benar, tidak sedikit yang menyembunyikan untaian mutiara ilmu pengetahuan itu dari sejarah dunia. Bahkan yang lebih menyedihkan lagi adalah dari kita sendiri sebagai umat Islam, kita tidak lagi bangga dengan fitrah diri kita dengan mengabaikan fakta sejarah ini. Selain itu, kita tidak lagi menjadikan apa yang dilakukan oleh pendahulu kita sebagai contoh motivasi untuk lebih maju dan terus berkarya demi mengikuti persaingan dunia. Padahal kita memiliki modal untuk menjadi kaum yang paling berjaya di seantero dunia.
Mari dari sekarang kita berniat dan meneguhkan semangat usaha demi membangkitkan kejayaan umat Islam. Karena hakekatnya itu adalah wujud nyata dari menegakkan ajaran yang termaktub di dalam agama kita (Al-Qur`an dan As-Sunnah).

Share this article :

2 komentar:

  1. Mwah, patut di contoh ni, dan mudah-mudahan juga mereka selalu di kenang, jangan hanya melihat ilmuan barat.

    salam sukses

    ReplyDelete
  2. subhanallah.. semoga menjadi contoh bagi kita semua.ilmu berkembang pada saat itu karena bukan untuk dijual tapi untuk ibadah, mempertebal keimanan kepada Allah.
    mohon izin share untuk situs sekolah dan blog pribadi saya. jazakallah

    ReplyDelete

Komentarlah Dengan Baik dan Benar. Jangan ada SPAM dan beri kritik saran kepada blog ILMU DUNIA DAN AKHIRAT.

Mengingat Semakin Banyak Komentar SPAM maka setiap komentar akan di seleksi. :)

"Barangsiapa beriman kepada Allah dan hari akhir hendaklah berbicara yang baik-baik atau diam." (HR. Bukhari)

>TERIMA KASIH<

ILMU DUNIA DAN AKHIRAT. Powered by Blogger.
 
Support : Ilmu Dunia dan Akhirat | I.D.D.A. | ILMU DUNIA DAN AKHIRAT
Copyright © 2013. I.D.D.A.╚ - All Rights Reserved
Template Created by Creating Website Published by Mas Template
Proudly powered by Blogger